Genjek, Mabuk Itu Indah





Indonesia memang gudangnya kreativitas. Bahkan kegiatan mabuk pun bisa menjadi karya seni yang luar biasa. Kita semua sudah pernah mengenal musik rap tentunya, di mana orang mengeluarkan kata – kata secara cepat dengan ritme tertentu selayaknya orang bernyanyi. Ajaibnya, di Indonesia, tepatnya di Bali, mabuk bisa diramu menjadi musik seperti musik rap namun kental dengan budaya Bali. Perbedaan genjek dengan rap adalah, genjek dilakukan secara bersahut – sahutan oleh beberapa orang yang biasanya sedang mabuk. Sedangkan rap dilakukan dengan berbicara secara cepat bisa dilakukan perorangan atau bersama – sama. 


Genjek berawal dari kegiatan kumpul-kumpul sambil minum arak dan tuak, beberapa orang yang sudah hilang kendali (mabuk) mengeluarkan suara-suara yang tidak tentu dan akhirnya disahuti dengan yang lainnya. Tawa dan gembira terpancar dari cara mereka mengungkapkan kata-kata dengan berirama selayaknya sebuah lagu tersebut. Sebagian orang lainnya akan menirukan suara musik sebagai pelengkap dari genjek khususnya suara kendang dan kempul. Seni ini pada mulanya berkembang di daerah Bali bagian timur (Karangasem) dan selanjutnya dikenal ke seluruh bagian wilayah Bali lainnya. Bahkan di Bali utara sendiri seni ini terkadang dilengkapi dengan pementasan joged lengkap dengan musiknya yang dilakukan setelah para seniman Genjek selesai. 

Dari segi musikalitas, sebenarnya genjek serupa dengan Janger. Hanya saja mereka memiliki perbedaan pada formalitas dalam membawakannya. Musik Janger biasanya dibawakan dengan formal dan dilakukan oleh dua kelompok lelaki dan perempuan. Tembang dalam Janger pun dibawakan dalam bahasa yang sangat halus disertai musik dan tarian yang sudah diatur sedimikian rupa. Lain halnya dengan Genjek. Genjek lebih bebas dan bahasa yang digunakan pun adalah bahasa sehari - hari.

Seiring dengan berjalannya waktu, seni ini berkembang dan dilakukan oleh mereka yang tidak dalam pengaruh minuman tersebut. Kata-kata yang diperdengarkan pun semakin bervariasi yang diambil dari bahasa sehari-hari masyarakat seperti: perasaan jatuh cinta/kagum dengan seorang wanita, masalah pikiran yang dialami di kantor dan yang lainnya. Harapan seni ini nantinya bisa dijadikan sebagai ajang bercerita tanpa harus menyinggung orang lain dan utamanya tanpa minuman keras yang biasa menyertai.



Sumber :

Comments

Popular posts from this blog

Bahasa Paling Aneh Sedunia, Bahasa Indonesia

"Golden Child" Generasi Baru Manusia Selain Indigo

Soto, Makanan dari China yang Sangat Indonesia