Hati - Hati di Jalan, Bhira! [Inspiring Story]



Dari kejauhan, lampu lalu lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Bhira (nama samaran) segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Bhira berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Bhira bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. "Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak," pikirnya sambil terus melaju.

Priiiiiit.....!!!!!


Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Bhira menepikan kendaraan agak jauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey itu kan Ridho (nama samaran juga) ! teman mainnya semasa SMA dulu (dalam hati). Hati Bhira agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

"Hai Do, senang sekali ketemu kamu lagi!"


"Hai Bhir." (Tanpa senyum)

"Duh, sepertinya aku kena tilang nih? aku memang agak buru-buru. Istriku sedang menunggu di rumah."

"Oh ya?", tampaknya Ridho agak ragu.


"Do, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan ank-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat dong."

"Aku mengerti, Tapi sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini."

Ternyata percakapan tidak sesuai dengan harapan Bhira, ia berpikir untuk mengganti strategi.

"Jadi kamu hendak menilangku ? Sungguh tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat, lampu kuning masih menyala." Bhira berharap dengan berdusta sedikit, bisa memperlancar keadaan.

"Maaf Bhir, kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu."
Dengan ketus Bhira menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca Jendelanya. Sementara Ridho menulis sesuatu di Buku Tilangnya. Beberapa saat kemudian Bhira mengetuk kaca jendela. Bhira memandangi wajah Ridho dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang yang diselipkan Ridho di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini? Ternyata SIM nya dikembalikan bersama sebuah Nota. Kenapa ia tidak menilangku? lalu Nota ini apa? Buru-buru Bhira membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bhira.

"Halo Bhira. Tahukah kamu Bhir? aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 Bulan. Begitu ia bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan satu-satunya anak kami sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar tuhan berkenan mengaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa Sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Bhira. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam Ridho)."

Bhira terhenyak. ia segera keluar dari kendaraan mencari Ridho. Namun Ridho sudah meninggalkan pos jaganya, entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.....!!!!! 

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka orang lain. Hidup ini sangat berharga, jalanilah dengan penuh hati-hati.

Drive Safely Kawan...

Oh ya. Semua Kecelakaan lalu lintas, dimulai dari sebuah pelanggaran lalu lintas kawan. Jadi jangan melanggar ya.
coba juga disimak artikel : bank mandiri bank terbaik di Indonesia

Comments

  1. @brantas : makaasi ya:D
    @gita: belum nemu hahahaha, doain ridho biar jadi polisi beneran hahaha

    ReplyDelete
  2. kok akuu bar...hahahahaha
    sipp"..saya relakan namaku kamu pakai bar..hahay

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Bahasa Paling Aneh Sedunia, Bahasa Indonesia

"Golden Child" Generasi Baru Manusia Selain Indigo

Soto, Makanan dari China yang Sangat Indonesia