Tetap Bersinar Walau ‘ Penyakit Kronis’ Malas Menerjang


Malas. Ya, penyakit paling kronis yang sering menghantui semua orang, khususnya mahasiswa. Kita selalu saja meiliki alasan ketika sedang malas melakukan sesuatu. Ketika kita sedang malas menghadapi praktikum misalnya, kita lampiaskan rasa malas kita dengan membuka facebook atau jejaring sosial lainnya. Sebelum membahas tips dan trik untuk mengakali rasa malas, mari kita tilik karakter dari pemalas.

Pertama, saat menghadapi masalah, pemalas selalu menyibukkan dirinya dengan berbagai distraksi atau hal lain. Misalnya, sudah duduk manis di depan laptop, siap coding java, yang dilakukan kemudian malah chatting dengan pacar melalui Yahoo Messenger. (Alasan : Bila kangen tak terlampiaskan susah untuk berpikir jernih, apalagi memikirkan coding java) Super sekali!

Kedua, pemalas tidak suka memikirkan yang rumit – rumit. Karena itu pemalas menghabiskan waktunya untuk mencari solusi paling sederhana dari suatu masalah. Selain enggan menghadapi masalah secara langsung (Alasan : sedang mencari solusi yang lebih sederhana), dia jadi berpikir kreatif. Jadi sebenarnya malas berpikir rumit bukanlah hal yang buruk asal diiringi dengan memikirkan solusi sederhana yang solutif.

Ketiga, hobi seorang pemalas adalah melempar tanggung jawab. Sebisa mungkin dia menghindari untuk mengerjakan tugasnya sendiri. Lebih baik orang lain yang mengerjakan tugasnya. (Alasan : delegasi, memberikan kesempatan orang lain untuk berkembang)

Keempat, pemalas adalah pecinta last-minute-actions. Dia senang mengabaikan tugas sehingga tugas menumpuk ketika deadline menghimpit. Setelah itu yang terjadi adalah panik. Adrenaline mengalir deras, barulah konsentrasi muncul dan ia memulai mengerjakan tugasnya.


Lantas, bagaimana cara agar Tetap Bersinar Walau ‘ Penyakit Kronis’ Malas Menerjang ?
  • Pilih jurusan, mata kuliah, atau kegiatan yang benar – benar kita suka. Bila kita bekerja di bidang yang kita cintai, seberat apapun tantangannya pasti akan kita lalui dengan bahagia.
  • Balik prioritas tugas. Letakkan tugas paling penting di urutan paling bawah dan tugas paling tidak penting di urutan pertama. Tanamkan minsdset yang kuat di pikiran kita bahwa urutan pertama adalah tugas paling penting. Voila! Yang akan terjadi adalah kita akan mengerjakan tugas di urutan terakhir terlebih dahulu karena malas mengerjakan tugas di urutan pertama. Trust me its work!
  • Jauhkan semua distraksi atau pemecah konsentrasi. Misalnya, ketika tugas menumpuk, titipkan remote televisi dan komik di rumah tetangga. Lalu segera kerjakan tugas kita. Ketika kita bosan dan mencari remote televisi, kita harus mengetuk rumah tetangga kita, karena malas keluar rumah, akhirnya kita terpaksa untuk kembali mengerjakan tugas kita. 
  • Delegasikan tugas yang seharusnya bisa kita delegasikan. 
  • Kehabisan ide ketika harus bekerja kreatif? Omong kosong! Ide ada jutaan di luar sana, kita hanya malas untuk menggalinya lebih jauh. Bila ide yang kita dapat tidak sesuai dengan tugas kita, lakukanlah ide yang kita dapat. Lakukan hal yang berbeda dengan tugas kita. Mungkin saja kita bisa mengerjakan hal yang luar biasa di luar topik tugas kita. Berpikir ‘out of the box’ kan? Misalnya, kita diminta menulis sebuah opini tentang suatu kasus, namun yang ada di pikiran kita hanyalah tentang traveling. Tulis saja kasus yang mungkin terjadi saat traveling atau jalan – jalan. Win – win solution bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Bahasa Paling Aneh Sedunia, Bahasa Indonesia

"Golden Child" Generasi Baru Manusia Selain Indigo

Soto, Makanan dari China yang Sangat Indonesia